perjalanan 3

Setelah melakukan promosi aku dan rahma bergegas untuk pulang ke kantor. Dijalan aku mengendarai mobil yang sudah disediakan oleh kantor yang berguna untuk keperluan kantor. Aku mengendarai mobil penuh kehati-hatian karena aku tidak mau membahayakan teman yang satu ini. Didalam mobil supaya tidak hening aku pun mendengarkan lagu yang di putar di radio kesayanganku dan memulai obrolan dengan rahma.
“ma kok tadi enak banget ya promosinya biasanya, biasanya kan rewel dan kita pasang harga berapapun  menyanggupi. Kamu merasa aneh nggak dengan perusahaan itu?” Tanyaku kepada rahma.
“iya memang biasanya kan rewel ya kalau perusahaan segede itu. Tanya masa perawatan, dan servis gratisnya berapa kali, dan yang aneh lagi dia juga tidak menanyakan bagaimana kalau mesin yang kita promosikan itu rusak sebelum pemasangan atau kalau 1 minggu setelah pemasangan rusak? Biasanya perusahaan segede itu kan nggak mau rugi walaupun 1 rupiah pun.” Jawab rahma.
“iya sih kok aku merasa ada sesuatu ya ma.” Tanyaku dengan nada sedikit curiga.
“wah nggak ya gus tenang saja, semoga saja nggak ada apa-apa dengan semua kecurigaan kita tentang perusahaan itu.” Jawab rahma dengan sedikit menenangkan akusupaya aku tidak curuga denagn perusahaan tadi.
“iya semoga saja ma.” Jawabku dengan sedikit nada sinis.
“iya gus, kalau gitu juga itu sebuah kebanggaan buat kita karena promosi yang kita lakukan diterima dengan cepat dan dia mau pesan alat dengan kita, jangan mikir yang aneh-aneh lagi deh gus’” jawab rahma lagi.
“ya aku itu nggak bias santai kalau masalah pekerjaan dan aku tidak mau di buat alat untuk kepentingan mereka-mereka yang licik seumpama ada. Masalahnya aku sudah pernah ngalamin hal semacam itudi perusahaan yang sebelum aku disini”. Dengan nada sedikit khawatir.
“iya udah sekarang nggak usah dipikir lagi yang penting kan tugas kita menjual alat itu sudah selesai, sekarang tugas  kita tinggal nyusun laporan ke atasan kita bahwa promosi yang dilakukan diperusahaan tadi sukses. Sudah gitu saja. Masalah dia mau menggunakan alat itu sebagai apa itu terserah dia.” Jawab rahma dengan nada menenangkan  yang semakin membuatku ingin bersandar dipundaknya.
“iya siap deh, eh iya ini sudah waktunya makan siang, kita mau makan apa tidak ma?” tanyaku sambil aku melihat jam yang ada ditanganku.
“Em sebaiknya bagaimana? Kita makan dikantor atau kita makan diwarung pinggir jalan?” jawab rahma dengan nada yang bertanya balik.
“Ya kita makan dikantor saja bagaimana? Kan disana sudah disediakan makanan yang enak-enak oleh kantor. Kalau bukan kita yang makan memang siap lagi?” jawabku
“Iya deh aku nurut saja, toh sealian kita ngirit uang jajan. Iya nggak?” tanaya rahma.
“betul sekali ma.”

karena aku dan rahma setuju untukmakandikantormaka aku pacu mobil dengan kecepatan yang sedikit lebih cepet dari yang tadi karena mengejar waktu  dan peutpun sudah bergejolak minta di isi. Karena dari pagi perut ini kosong tanpa asupan yang masuk dari rongga mulut. Maklum anak kos.

Komentar