perjalanan 4
Siang ini selepas aku menjalankan tugas promosi di perusahaann tadi, aku membagi tugas dengan rahma, bahwa aku tadi sudah menjadi pembicara di depan konsumen maka aku juga yang menyiapkan laporan ke atasan dan bagian rahma adalah merevisi dan menjelaskan laporan yang aku buat. Siang yang begitu panas aku hanya menatap layer computer yang ada didepanku. Aku ingin tugas ini laporan promosi dan aku bisa istirahat.
“hei gus bagaimana tadi promosinya?” tanya amrih kepadaku sambil memegang pundaku dari belakang.
“kamu mrih” jawabku dengan sedikit kaget.
“kamu itu tak lihat dari jauh konsen banget ngerjain tugasnya. Memang kamu ngerjain tugas apa gus? Tuh kasian computer kamu kalau bisa teriak computer kamu itu pasti udah teriak-teriak gus. Computer kamu pasti teriak: adek capek bang, jangan pantegin adek terus, adek juga pengen istirahat” kata amrih dengan nada bercanda.
“ ya bagaimana ya mrih, tugas ini harus cepet selesai supaya aku bisa lepas dari computer ini dan bisa istirahat, aku nggak bisa tenang istirahat kalau tugasku belum kelar.” jawabku.
“Memang tugas apa sih gus? Laporan promosi tadi atau apa?” tanya amrih.
“Laporan promosi tadi. Masak iya aku laporan nggak bawa apa-apa.” Jawabku.
“Kalau boleh aku tau, promosinya tadi bagaimana hasilnya?” tanya amrih lagi.
Ya sukses dong, siapa dulu pembicaranya? Jawabku dengan sedikit membusungkan dada.
“ memang siap pembicaranya kamu kah? Mana mungkin aku ngggak percaya kalu kamu pembicaranya kamu kan suka gemetar nggak jelas kalu bicara didepan orang banyak.” Kata amrih dengan nada bercanda.
“Enak saja, coba tanya rahma siapa yang jadi pembicaranya?” kataku.
“Terus rahma ngapain gus?” tanya amrih.
“Ya jadi operator komputerku. Mau bagaimana lagi?” jawabku ke amrih.
“Iya deh aku percaya gus. Eh gus kamu suka sama rahma ya?” pertanyaan amrih ngelantur.
“Maksudnya bagaimana mrih?” kataku coba untuk meluruskan topik pembicaraan yang mulai keluar dari topik yang dibicarakan diawal.
“Alah jangan sok disembunyikan deh gus? Temen-temen sudah tau kok kalau kamu suka sama dia.” Kata amrih.
“Kok kamu bisa tahu perasaanku ke rahma memang kamu tahu darimana?” tanyaku amrih dengan sedikit cemas.
“Ya nggak dari mana-mana kok wong ya kamu kelihatan dari perlakuanmu ke rahma. Hati-hati gus banyak yang suka lo rahma.” Jawab amrih dengan nada santai.
“Nggak ya, aku nggak suka ke rahma. Aku Cuma nganggap dia Cuma sebagai patner kerja saj nggak lebih dari itu.” Jawabku dengan sedikit mengelak.
“Bener cuma itu saja? Jangan sok naif deh gus. Kalau hilang kapok kamu.” Jawab amrih dengan sedikit getakan kepadaku.
“Eh kok gitu kamu ke teman kamu, do’anya nggak baik.” Kataku dengan nada permintaan.
“Bener kan kamu suka sama rahma? Jujur saja aku nggak bakalan bilang ke teman-teman kok.” Kata amrih.
“Iya mrih aku suka sama dia,. Walaupun dia cuek tapi dia penyayang, bisa diandalkan pokoknya sudah pas lah dimataku.” Kataku.
“Ya sudah jangan lama-lama PDKT-nya nanti diambil orang kamu nyesel lo.” Kata amrih.
Dan aku pun mengangguk, tanda aku menyanggupi anjuran dari amrih.
“Semoga di terima ya perasaanmu dan langgeng.” Doa yang terucap dari mulut amrih.
Akupun mengamini doa dari amrih.
“Sudah selesaikan dulu tugasmu jangan mikir yang aneh-aneh dulu biar cepet selesai. Baru temui dia dan nyatakan perasaanmu ke dia. Aku mau mkan dulu laper, belum istirahat aku dari tadi.” Kata amrih dan lalu ia pun bergegas meninggalkan mejaku untuk pergi ke kantin untuk makan.
“Ok yang kenyang biar hatimu senang dan bisa mikir kerjaan yang lain.” Kataku sambal melambaikan tanganku kearah amrih yang bergegas menjauhiku.
Akupun melanjutkan pekerjaan yang aku tinggal ngobrol dengan amrih tetapi aku sudah tidak bisa konsen lagi di dalam mengerjakan tugas karena didalam pikiranku hanya ada nama rahma dan bagaimana caranya aku menyatakan cinta kepadanya. Bagaimana kalau dia sudah punya pacar dan perasaanku ditolak. Tapi aku sadar apabila dia jodohku pasti dia akan kembali ke diriku dan kalau dia bukan jodohku kita akan bertemu dipelaminan dan salah satu dari aku dan rahma akan jadi tamunya.
Komentar
Posting Komentar