perjalanan 2

Pagi ini aku bergegas pergi kekantor dan mengecek apakah alat dan bahan yang digunakan untuk keperluan promosi sudah siap. Hari sungguh dingin tidak seperti hari kemarin yang dimana hari ini kakiku merasa seperti ditusuk-tusuk jarum dan sangat sulit untuk berjalan.
Sesampainya dikantor aku mengecek semua keperluan dan semua sudah tertata rapi. Dalam hati aku bergumam “berarti aku hanya tinggal gas saja dalam berpromosi hari ini”. Karena waktu masuk kantor masih lama aku sempatkan menelfon ibuku yang ada dikampungdan meminta doa supaya usahaku dimudahkan.
“tut….tut..tut…” suara henponku berbunyi kareana belum diangkat oleh ibu.
“assalamualaikum?”Suara sayu yang terdengar dari handphonku.
“walaikumsalam, bagaimana bu kabarnya sehatkan?”
Baik kok, ibu sehat  semuanya alhamdulilah sehat, kamu sendiri bagaimana?
Aku sehat kok buk, bapak sehatkan?
Iya sehat kok. Kok kamu lama nggak telfon kamu sibuk banget kah?
“ya ini kan awal-awal bulan bu. Jadinya kerjaannya banyak terus nggak sempat telfon ibu deh.”
“lah gimana to gus, nelfon ibu kok kalau sempat. Kamu nggak kerja gus?”
“ini lagi kerja buk. Aku sekarang saja masih dikantor kok. Maafin aku ya buk yang nelfon  cuma kalau sempat saja.”
“iya nggakap-apa gus. Yaudah kalau gitu kamu kerja dulu nanti dimarihin sama bos kamu lagi.”
“iya bu, bosnya belum datang kok. Jadi santai-satai dulu juga gak apa-apa kan.”
“iya sih tapi jangan seperti itu juga. Kalau santai-santai terus nanti kamu lupa dengan pekerjaanmu lo.”
“yaudah aku kerja dulu ya bu. Doakan aku lancar ya dalam mengerjakan pekerjaanku. Asalamualaikum bu.”
“walaikumsalam, doa ibu mengiringimu. Kerja yang semangat ya gus. Salam buat teman-temanmu.”
“iya bu siap.”
Sesudah aku telfon dengan ibuku aku melihat seisi kantor adakah teman yang sudah datang. Ternyata baru aku yang datang di pagi ini. Temanku suka datang mepet jam waktu masuk kerja. Jam kantor tepat menunjukan pukul 06:52,teman-temanku satu persatu pada datang. Dan aku memulai kegiatan yang monoton aku kerjakan  sebagai karyawan di bidang pemasaran.
Hari ini aku bekerja dengan patnerku yang aku cintai rahma, sebagai pemuja rahasia aku pun selalu bersemangat apabila bersamanya. Aku ditugaskan untuk menjelaskan dan  mendengarkan dari patner perusahaan apakah mau diajak untuk bekerja sama atau tidak. Pukul delapan aku dan rahma melaju ketempat pertemuan yang sudah dijanjikan oleh perusahaan dan pukul sembilan kurang seperempat aku dan rahma sampai.
Aku masuk kedalam kantor perusahaan dan menanyakan ke resepsionis:
“pagi mbak, saya dari perusahaan yang kemarin yang menawarkan sistem keamanan, saya ingin bertemu dengan petinggi perusahaan disini? Apakah sudah datang?”
“oh iya mas? Maaf kalau boleh tau ada kebutuhan apa ya?”
“ini  mbak mau menawarkan barang. Saya sudah janjian ke petingi disini kok.”
“nanti dulu ya mas saya tanyakan dulu, orangnya ada apa nggak. Silahkan duduk dulu.”
“terimakasih mbak.”
Akupun duduk sambil menunggu bersama apakah bisa atau nggak bertemu dengan petinggi perusahaan. Menunggu memang capek apalagi menunggu yang tak pasti seperti menunggu hujan di musim kemarau (hanya capek saja). Sejam berlalu akupun dipersilahkan menemui orang yang aku cari dan keputusannya perusahanku boleh menyuplai sistem keamanan diperusahaan dan anak perusahaan tersebut. Hati senang  dan bangga karena kerjakerasku terbayarkan dengan tandatangan perjanjian.

Hidup selalu seperti itu apabila doa dan usaha akan selalu beriringan hal yang mungkin sulit bahkan tidak mungkin terjadi akan terjadi apabila kita sungguh-sungguh dalam mengerjakannya.

Komentar